Cegah Stunting2022-12-01T14:26:24+07:00

Pemerintah Kabupaten Karangasem
Bersama Cegah Stunting

Apa itu Stunting?

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar (PB/U atau TB/U). Tinggi badan hanya penunjuk fisik, namun dampak lain yang tak kalah mengkhawatirkan dari stunting adalah hambatan perkembangan kognitif dan motorik serta gangguan metabolik pada saat dewasa sehingga berisiko menderita penyakit tidak menular.

Gejala Stunting

Gejala stunting sering tidak disadari, karena anak hanya diduga memiliki tubuh yang pendek. Meski demikian, gejala stunting umumnya bisa terlihat saat anak berusia 2 tahun. Sumber https://www.alodokter.com/

Gejala yang menunjukkan anak mengalami stunting adalah
  • Tubuh anak lebih pendek dibandingkan standar tinggi badan anak seusianya

  • Berat badan anak bisa lebih rendah untuk anak seusianya

  • Pertumbuhan tulang terhambat

  • Mudah sakit

  • Gangguan belajar

  • Gangguan tumbuh kembang

Bila menderita penyakit kronis, anak dengan stunting bisa mengalami sejumlah gejala berikut:
  • Tidak aktif bermain

  • Batuk kronis, demam, serta berkeringat pada malam hari

  • Tubuh anak membiru ketika menangis (sianosis)

  • Sering lemas

  • Ujung jari berbentuk seperti tabuh (clubbing finger)

  • Bayi tidak dapat menyusu dengan baik

3 Penyebab Stunting menurut WHO

sumber https://www.kompas.com/

Infeksi berulang

Infeksi berulang bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama, kurangnya akses ibu dan anak ke fasilitas layanan kesehatan. Kedua, pola hidup yang tidak bersih, seperti kesulitan akses air bersih atau tinggal di tempat yang tidak bersih. Contoh infeksi yang bisa memengaruhi bayi antara lain malaria, pneumonia, diare, dan cacingan. Sebanyak 25 persen kasus stunting disebabkan oleh diare lebih dari lima episode pada anak berumur di bawah dua tahun.

Gizi buruk

Gizi buruk yang terjadi pada anak biasanya karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi akibat faktor ekonomi, atau kurang bervariasinya makanan yang diberikan. Selain itu, gizi buruk juga biasanya diperparah perilaku ibu yang tidak memperhatikan gizi sejak masa kehamilan. Umumnya, ini terjadi pada ibu remaja yang belum memahami pentingnya asupan bergizi sejak masa kehamilan, serta pola laktasi yang memadai.

Kurangnya Stimulasi Psikososial

Selain diberikan gizi yang cukup, bayi juga harus berinteraksi dengan orang yang menjaganya. Hal ini akan mengotimalkan tumbuh kembang bayi. Contoh kurangnya stimulasi psikososial adalah anak yang kedua orang tuanya bekerja dan anaknya dititipkan pada kerabat atau keluarga yang lain. Ini berpotensi membatasi stimulasi interaksi yang diterima bayi

Stunting bisa dicegah

Seringkali masalah-masalah non kesehatan menjadi akar dari masalah stunting, baik itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan

Pola Makan

Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam. Istilah “Isi Piringku” dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan, di samping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur.

Pola Asuh

Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita. Dimulai dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Imunisasi Lengkap

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas.

Sanitasi dan Akses Air Bersih

Sanitasi dan Akses Air Bersih Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

Tulisan Terkait Stunting

Link website terkait stunting
Go to Top